Ketika melihat buku Ensiklopeidana Ilmu dalam Al Qur’an karya Afzalur Rahman di pelataran masjid UGM, tanpa pikir panjang langsung saya ambil. Tentunya tidak lupa bayar. Dalam buku ini, ada ulasan menarik seputar surat Luqman ayat kedua puluh.
“Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yan ada di bumi dan menyempurnakan untuk mu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” QS. Luqman: 20Kata menundukkan (shakhara) mengandung makna menjadikannya pelayan. Kata ini bisa dimaknai dengan dua pengertian. Pertama, Allah meletakkan segala sesuatu sepenuhnya di rentang kendali manusia sehingga ia bisa menggunakan sesuai keinginannya. Kedua, bisa juga berarti adanya ketetapan Allah berupa sebuah sistem hukum yang reguler dan tetap (sunnah kauniyah) yang mengatur jalannya segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya oelh manusia.
Binatang ternak, tumbuhan, kekayaan mineral, ditundukkan pada manusia dalam pengertian yang pertama. Sedangkan penundukan dalam pengertian kedua dapat dilihat pada pemanfaatan bulan, matahari, gugusan bintang, dan lainnya dalam keberlangsungan hidup manusia.
Untuk mengoptimalkan taskhir inilah manusia perlu akan ilmu-ilmu alam. Bagaimana mengungkap nikmat Allah yang belum terindra, mempelajari cara kerjanya, manfaatnya, serta metode menundukkannya untuk kemanfaatan dan kesejahteraan di muka bumi. Semangat inilah yang kemudian mengantarkan umat Islam di masa lalu menjadi para jenius yang menjadi master dalam beberapa bidang keilmuan sekaligus, atau sering diistilahkan dengan polymath. Al Khawarizmi adalah pakar matematika, astronomi dan geografi. Ialah penemu bilangan biner, 0 (nol). Al Kindi menguasai filsafat, matematika, kedokteran, fisika, optik, astronomi, dan metalurgi. Ar Razi bahkan menguasai secara penuh bidang kedokteran, bahkan ia berjasa besar menganalisis sebab-sebab alergi, demam dan bahan-bahan kimia. Ibnu Haitham adalah Bapak Optik yang merumuskan secara saintifik sistem penglihatan manusia. Ibn Al Nafis menjadi ilmuwan pertama di dunia yang berhasil menggambarkan secara terperinci sistem sirkulasi darah, urat nadi dan arteri manusia. Kemajuan ilmu astronomi dan pemetaan memudahkan Ibnu Battuta menaklukkan lautan dengan eksplorasi lebih dari 120.000 kilometer, jauh melebihi Marcopolo yang disanjung-sanjung dunia. Haji Mahmud atau laksamana Cheng Ho (Zheng He), seorang penjelajah Muslim berkebangsaan Cina berlayar dengan 300 armada kapal beserta 30.000 awak. Jumlah yang jauh lebih besar dibanding ekspedisi Colombus. Mantan komandan angkatan laut Inggris, Gavin Menzies bahkan menyatakan bahwa kemungkinan Cheng Ho telah mencapai Amerika sebelum Colombus










0 komentar:
Posting Komentar